Sunday, August 19, 2012

Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo)



Nama : Agus Hadi Sudjiwo
Jenis Kelamin :Laki-Laki
Agama : Islam
Tempat dan tanggal lahir :Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962
Sekolah :
jurusan Matematika dan jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung
Biografi :
PERSONAL
Agus Hadi Sudjiwo atau populer dengan nama Sudjiwo Tedjo lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962. Meski dia juga seorang penyanyi, namun sosoknya lebih banyak dikenal sebagai seorang aktris dan budayawan. Tedjo yang lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama delapan tahun.Setelah beberapa lama menjalani kehidupan sebagai wartawan, ia kemudian berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Dalam aksinya sebagai dalang, Tedjo suka melanggar berbagai pakem pewayangan, termasuk Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.Pergumulannya dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), memberinya peluang untuk mengembangkan dirinya secara total di bidang kesenian. Selain mengajar teater di EKI sejak 1997, Sujiwo Tejo juga memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia sejak 1998.

Berlanjut pada tahun 1999, Tejo memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang. Tujuannya adalah untuk memberi nafas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Bahkan pada tahun 2004, Sujiwo Tejo mendalang keliling Yunani.
KARIR
Semasa kuliah, bakat seni Sujiwo Tejo memang sudah mulai tampak. Bersama dengan budayawan Nirwan Dewanto, mantan penyiar radio kampus tersebut Ludruk ITB. Sujiwo Tejo juga menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981-1983 dan pernah membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi tahun 1983.
Kemampuan dalang Sujiwo Tejo telah berkembang sejak usianya masih anak-anak. Dia bahkan mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul Semar Mesem (1994). Ia juga menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia tahun 1996, disusul wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur.
Pada tahun 1998, Sujiwo Tejo mulai dikenal masyarakat sebagai penyanyi berkat lagu-lagunya dalam album PADA SUATU KETIKA. Video klip Pada Suatu Ketika meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000.
Kemudian diikuti album berikutnya yaitu PADA SEBUAH RANJANG (1999), SYAIR DUNIA MAYA (2005) dan YAIYO (2007). Selain ndalang, Sujiwo Tejo juga aktif dalam menggelar atau turut serta dalam pertunjukan teater. Antara lain, membuat pertunjukan Laki-laki kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999.
Sujiwo Tejo juga menjadi Sang Dalang dalam pementasan EKI Dancer Company yang bertajuk Lovers and Liars di Balai Sarbini, Sabtu dan Minggu, 27-28 Februari 2004. Selain teater, Sujiwo Tejo juga bermain dan menjadi sutradara film. Debut filmnya adalahTELEGRAM (2001) arahan Slamet Rahardjo dengan lawan main Ayu Azhari. Film ini bahkan meraih Best Actress untuk Ayu Azhari dalam Asia-Pacific Film Festival.
Kemudian karirnya di dunia film dilanjutkan dengan KAFIR (2002), KANIBAL (2004),JANJI JONI (2005) dan KALA (2007). Bersama Meriam BellinaSujiwo Tejomembintangi Gala Misteri SCTV yang berjudul KAFIR-TIDAK DITERIMA DI BUMI (2004).
Sujiwo Tejo juga menggarap musik untuk pertunjukan musikal berjudul Battle of Love-when love turns sour, yang digelar 31 Mei sampai 2 Juni 2005 di Gedung Kesenian Jakarta. Hasil pertunjukan karya bersama Rusdy Rukmarata (sutradara & koreografer) dan Sujiwo Tejo (komposer musik) akan digunakan untuk membiayai program pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak putus sekolah yang dikelola oleh Yayasan Titian Penerus Bangsa.
Sujiwo Tejo juga menyutradarai drama musikal yang berjudul ‘Pangeran Katak dan Puteri Impian’ yang digelar di Jakarta Convention Center tanggal 1 dan 2 Juli 2006. Selain ituTedjo juga pernah menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti JANJI JONI, KAFIR dan DETIK TERAKHIR. Selain itu, dia juga tampil dalam drama teatrikalKABARETJO yang berarti Ketawa Bareng Tejo.
Selain itu, dia juga membintangi film-film sukses lainnya. Salah satu film cukup populer yang dibintanginya adalah film garapan Hanung Bramantyo yang berjudul SANG PENCERAH (2010). Sedangkan tahun 2011, dia sibuk dengan film terbarunya berjudulTENDANGAN DARI LANGIT, di mana dia berakting bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan.
DISKOGRAFI
PADA SUATU KETIKA (1998)
PADA SEBUAH RANJANG (1999)
SYAIR DUNIA MAYA (2005)
YAIYO (2007)
FILMOGRAFI
Film
TELEGRAM (2001)
KAFIR (2002)
KANIBAL – SUMANTO (2004)
DETIK TERAKHIR (2005)
JANJI JONI (2005)
KALA (2007)
HANTU ABORSI (2008)
BARBI3 (2008)
KAWIN LARIS (2009)
CAPRES (CALO PRESIDEN) (2009)
SANG PENCERAH (2010)
TENDANGAN DARI LANGIT (2011)
sebagai sutradara
BAHWA CINTA ITU ADA (2010)
Sinetron
DARI SUJUD KESUJUD (2011)
BUKU
Kelakar Madura buat Gus Dur (Yogyakarta, Lotus, 2001)
Dalang Edan (Aksara Karunia, 2002)
The Sax (Eksotika Karmawibhangga Indonesia, 2003)
Website
www.sujiwotejo.com
Sumber: kapalagi.com

Gus Mus

Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah : Mustofa Bisri
Ibu : Marafah Cholil
- Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
- Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
- Raudlatuh Tholibin, Rembang
- Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
- Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
- Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
- Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
- Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
- Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
- Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
- Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
- Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
- Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
- Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
- Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
- Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
- Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
- Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
- Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
- Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)
Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru bersikukuh menolak.

Pendidikan :
Karya Tulis Buku:
Organisasi:
Gus Mus Sang Kiyai Pembelajar
Kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.
KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.
Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya, jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab dengan bumbu tambahan.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.
Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.
KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.
Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.
Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.
Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula menjadi tempat mengajar santrinya.
Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba, keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf, Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal di situ.
Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul Berdzikir Bersama Inul. Begitulah cara Gus Mus mendorong perbaikan budaya yang berkembang saat itu.
Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan menggambar. Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret. Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius, kata Gus Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus rokok.
Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat lukisannya beda dengan kaligrafi. Sebagian besar kaligrafi yang ada terkesan tulisan yang diindah-indahkan, kata Jim Supangkat, memberi apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran lukisan.
Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Mustofa Bisgus musri diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.
Namun adalah Gus Dur pula yang mengembalikan Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur membuat acara Malam Palestina. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.
Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak, Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.
Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas Manusia (1990).
Tentang kepenyairan Gus Mus, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan pendamba kearifan, kata Sutardji.
Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.
Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).
Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, Doaku untuk Indonesia? dan Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia. Buku yang berisi kumpulan humor sejak zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya panas jika tulisan kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat, guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus Mus juga rajin membuat catatan harian.
Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang. Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.
Enggan Ketua PB NU
Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah berpasangan dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur, ulama kontroversial.
Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.
Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah, kata Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.
Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus. Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Marafah Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya menjawab lugas khas warga ulama NU, Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum. Nanti saya tak pernah ketemu.
Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas menyebutkan, Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak, ucap pria bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang pula berkomunikasi melalui telepon.***

Mario Teguh


Mario Teguh adalah seorang muslim yang menjadi motivator dan konsultan bisnis dan kepribadian asal Indonesia. Agama Mario Teguh adalah Islam. Bagi yang menganggap bahwa Mario Teguh kristen, Anda salah besar! Ya, Mario teguh beragama Islam. Beliau menjadi motivator tanpa menyinggung agama tertentu dan bisa merangkul semua kalangan. Mari kita simak kisah hidup Pak Mario!
Nama aslinya adalah Sis Maryono Teguh, namun saat tampil di depan publik, ia menggunakan nama Mario Teguh. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Mario Teguh sempat bekerja di Citibank, kemudian mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp. menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) dan Senior Consultan. Beliau juga membentuk komunnitas Mario Teguh Super Club (MTSC). Pak Mario lahir di Makassar, 5 Maret 1956.
Tahun 2010 kembali meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia, MURI, sebagai Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia.

Di awal tahun 2010, Beliau terpilih sebagai satu dari 8 Tokoh Perubahan 2009 versi Republika surat kabar yang terbit di Jakarta.
Sebelumnya Beliau membawakan acara bertajuk Business Art di O’Channel. Kemudian namanya semakin dikenal luas oleh masyarakat ketika ia membawakan acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. Pada saat ini Mario Teguh dikenal sebagai salah satu motivator termahal di Indonesia.
Di tahun 2003 mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia, MURI, sebagai penyelenggara seminar berhadiah mobil pertama di Indonesia

PENDIDIKAN Mario Teguh

  1. Jurusan Arsitektur New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, Amerika Serikat, 1975.
  2. Jurusan Linguistik dan Pendidikan Bahasa Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (S-1).
  3. Jurusan International Business, Sophia University, Tokyo, Jepang.
  4. Jurusan Operations Systems, Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (MBA).

PENGALAMAN Mario Teguh

  1. Citibank Indonesia (1983 – 1986) as Head of Sales
  2. BSB Bank (1986 – 1989) as Manager Business Development
  3. Aspac Bank (1990 – 1994) as Vice President Marketing & Organization Development
  4. Exnal Corp Jakarta (1994 – present) as CEO, Senior Consultant
  5. Spesialisasi : Business Effectiveness Consultant

BUKU KARANGAN MARIO TEGUH

  1. Becoming a Star (2006)
  2. One Million Second Chances (2006)
  3. Life Changer (2009)
  4. Leadership Golden Ways (2009)

PRESTASI MARIO TEGUH DI TAHUN 2010

* Meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia, MURI, sebagai Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia.
* Terpilih sebagai satu dari 8 Tokoh Perubahan 2009 versi Republika surat kabar yang terbit di Jakarta.
Sebelumnya Mario Teguh membawakan acara bertajuk Business Art di O’Channel. Kemudian namanya semakin dikenal luas oleh masyarakat ketika ia membawakan acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. Dan pada saat ini Mario Teguh dikenal sebagai salah satu motivator termahal di Indonesia.

TIPS MARIO TEGUH

Semua keberhasilan dan kegagalan seseorang itu berasal dari masing masing orang tersebut, memulai suatu usaha apapun harus dimulai dari sikap dan cara berpikir kita dalam menanggapi berbagai situasi yang akan ditemui dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini. Semua kita ini adalah orang orang yang memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kita mengoptimalkan potensi kelebihan kita dan meminimalkan kekurangan kita, karna keseimbangan ke semua unsur kita adalah kinci sukses yang akan kita raih. Kita bukan harus berhasil, bukan harus sukses, tapi kita harus mencoba untuk sukses tampa kenal lelah dan kata menyerah, kegagalan adalah jenjang untuk sebuah kesuksesan bukan harus ditangisi dan disesali.

KUMPULAN KATA BIJAK MARIO TEGUH | KATA MUTIARA MARIO TEGUH | KATA MOTIVASI MARIO TEGUH

Jika anda menasehatkan sesuatu yang belum pernah anda lakukan, cepat atau lambat anda akan diuji dengan apa yang anda nasehati. Nasehatkan tentang kesabaran, maka kesabaran anda akan diuji.
Orang yang menghindari kesalahan, tidak akan tumbuh.
Nikmatilah setiap proses kehidupan.
Orang lain adalah cermin. Ada dua jenis : cermin baik dan buruk. Cermin buruk, sebaik apapun diri kita, akan tetap memantulkan gambar diri yang bengkok. Itulah mengapa anda perlu bergaul dengan lingkungan yang baik
Budi Pekerti adalah tindakan baik yang didasari oleh tujuan yang baik. Tujuan kemanusiaan dari budi pekerti adalah agar anda berguna bagi sesama.
Jika hidup dan matiku untuk Tuhan, untuk saya apa? Anda dapat apa yang Tuhan miliki.
Kebesaran orang bukan ditentukan oleh besar kecil tubuhnya, melainkan besar kecil hatinya.
Tidak mungkin ada dua benda dalam satu ruang. Pilih apa yang hendak anda masukkan ke hati anda : kebaikan atau kejahatan?
Hadiah pertama bagi orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan.
Penampilan terbaik dari seseorang adalah penampilan yang mewakili hati yang baik.
Manusia terindah adalah manusia yang bermanfaat untuk saudaranya.
Bagi pribadi yang tidak waspada dan tidak bersikap baik, dia bahkan akan menipu dirinya sendiri di hadapan pribadi yang mulia dan jujur kepadanya.
Harus datang akhir dari masa di mana orang mengambil keuntungan dari mengatakan dan melakukan yang tidak jujur kepada kita dan kepada mereka yang kita cintai.
Segala yang kita lakukan tidak ada yang tidak beresiko. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Ada beberapa panduan menyikapi resiko.
* Resiko tidak seharusnya membuat kita ciut nyali, namun tidak seharusnya juga menjadikan diri sebagai orang yang tidak takut dosa.
* Memilih sebuah hubungan adalah menerima resiko, cerminan diri kita dapat dilihat dari perilakunya terhadap kita.
* Resiko seharusnya dapat membuat kita menjadi orang yang lebih baik.
* Berfokuslah pada apa yang berani kita lakukan, hasilnya kita serahkan kepada Tuhan.
Jangan paksa orang untuk berubah. Berubah itu sulit. Berkasih sayanglah.
Perubahan itu tidak mudah, terutama untuk memperbaiki kualitas hidup.
Inginkanlah yang mudah, tetapi jangan lupakan keharusan mu untuk menjadi lebih kuat. Bukan pemberian yang mudah yang akan memudahkan hidup mu, tetapi kemampuan yang menjadikan mu pantas bagi semua pemberian besar – yang tidak mudah untuk didapat itu, yang akan menjadikan mu penegak kehidupan yang berjaya.
Lebih mudah meneruskan apa adanya, walau pun tidak mudah hidup dalam kesulitan. Maka jangan ganggu dia yang sulit berubah, walau pun itu untuk kebaikannya sendiri. Biarkanlah dia mengutamakan yang mudah sekarang, karena dia tidak keberatan dengan kesulitannya.
Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri ・lebih mudah untuk merasa sedih dan tidak berguna.
Tujuan hidup adalah sebuah ketetapan yang mendasari semua rencana dan kerja kita, dan yang menjadi penjaga arah perjalanan.
Kasih sayang itu sederhana. Tetapi, tidak sederhana perannya dalam mencantikkan kehidupan kita. Marilah kita mengikhlaskanlah diri untuk mengasihi pasangan kita sepenuhnya.
Jika kita sedang benar, jangan terlalu berani dan bila kita sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan kita.
Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan.
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.
Kita hanya dekat dengan mereka yang kita sukai. Dan seringkali kita menghindari orang yang tidak tidak kita sukai, padahal dari dialah kita akan mengenal sudut pikiran yang baru.
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan.
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.
Jangan menolak perubahan hanya karena kita takut kehilangan yang telah dimiliki, karena dengannya kita merendahkan nilai yang bisa kita capai melalui perubahan itu.
Kita tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila kita berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama kita. Kita akan disebut baru, hanya bila cara-cara kita baru.
Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap kita tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap kita salah.
Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda.
Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, kita akan punya kesempatan untuk bersikap berani.
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. kita akan menjadi lebih damai bila yang kita pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian kita dapat.
Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku seperti orang yang terus memeras jerami untuk mendapatkan santan.
Bila kita belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat kita, bakatilah apapun pekerjaan kita sekarang. Kita akan tampil secemerlang yang berbakat.
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai.
Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan.
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,kita akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin kita capai.
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Bila kita mencari uang, kita akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik. Tetapi jika kita mengutamakan pelayanan yang baik, maka kitalah yang akan dicari uang.
Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai.
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai.
Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus mengubah diri kita sendiri.

Dahlan Iskan


Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di MagetanJawa Timur), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLNsejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negaramenggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.
Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati (catatan tersebut dapat dibaca di Pengalaman Pribadi Menjalani Tranplantasi Liver) pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang penglaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi cangkok hati di Cina.
Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.
Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.
Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.
Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.
Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC)yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong. Dengan panjang serat optik 4.300 kilometer
Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.
Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.
Sumber

Tuesday, November 1, 2011

KH. Sholeh Bahrudin Kalam


Profil
KH. Sholeh Bahruddin
KH. Sholeh Bahrudin adalah putra pertama dari sebelas bersaudara putra dari pasangan KH. Bahruddin dan Ny. Siti Shofurotun. Dilahirkan di desa Carat – Gempol – Pasuruan, tanggal 09 Mei 1953 M. Selesai mendalami pendidikan agama di berbagai pondok pesantren, pada usia 22 tahun, tepatnya pada tahun 1975, beliau menikah dengan Ny. Hj. Siti Sa’adah dari Trenggalek. Hingga sekarang beliau dikaruniai sepuluh putra, yaitu Siti Muthoharah, Atik Hidayati, Ahmad Syaikhu, Siti Faiqoh, Luluk N, Siti Khurrotin, M. Faishal (Alm), M. Busthomi (Alm), Siti Hajar dan Siti Nuronia.
Pada tahun 1985  beliau mendirikan lembaga  pendidikan Pondok Pesantren Ngalah. Sebagai Pendiri dan ketua umum Yayasan Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan beliau juga menjabat sebagai musytasar NU cabang Pasuruan 2006-2010 M. Dalam menjalankan amanah, beliau sebagai pendiri dan pengasuh mempunyai prinsip atau motto  ngayomi lan ngayemi terhadap sesama.
Dengan lembaga yang dirikan mulai TK sampai Universitas beliau mempunyai tujuan dan harapan untuk mencerdaskan bangsa dan mepertahankan nilai-nilai Pancasila.
Silsilah KH. Sholeh Bahruddin
  1. KH. Sholeh Bahruddin
  2. KH. Mohammad Bahruddin
  3. Kyai. Kalam
  4. Ny.  Salimah
  5. Kyai. Sulaiman
  6. Kyai. Hasan besari
  7. Kyai. Ya’qub
  8. Kyai. Muhamad besari
  9. Kyai. Anom besari
  10. Kyai. Ageng Abd. Rosyid
  11. Kyai. Pangeran Santri
  12. Joko Tingkir
Guru-guru KH. Sholeh Bahruddin
  1. KH. Bahruddin Kalam                            : Carat Gempol Pasuruan
  2. KH. Qushaeri                                         : Mojosari Mojokerto Jawa Timur
  3. KH. Syamsudin                                      : Mojosari Mojokerto Jawa Timur
  4. KH. Bahri                                              : Sawahan Mojosari Mojokerto Jawa Timur
  5. KH. Jamal                                              : Batho’an  Mojo Kediri Jawa Timur
  6. KH. Musta’in                                         : Peterongan Jombang Jawa Timur
  7. KH. Iskandar                                          : Kandangan Ngoro Jombang Jawa Timur
  8. KH. Muslih                                            : Mranggen Semarang jawa tengah
  9. KH. Munawir                                         : Tegal Arum Kertosono Nganjuk Jawa Timur
Perjalanan hidup
KH.  Mohammad Bahruddin Kalam
“Riwayat hidup KH. Mohammad Bahruddin ini disusun, dengan harapan bisa dijadikan teladan atau tuntunan. Dan riwayat ini disusun berdasarkan sumber data rekaman KH. Mohammad Bahrudin semasa hidupnya, tepatnya pada hari Selasa pahing tanggal 22 Selo 1398 H/ 24 oktober 1978, atas nama KH. Mohammad Bahruddin Kalam
Carat – Gempol – Pandaan”.
A. Moqodimah
Dengan memanjatkan rasa puji syukur yang sebanar-benarnya kepada Allah SWT dan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, karena apa? kita semua saat ini diberi ni’mat berupa kesehatan dan kita bisa menghayati riwayat hidup KH. Mohammad Bahruddin Kalam.
B. Masa Kecil KH. Mohammad Bahruddin
KH. Mohammad Bahruddin Kalam dilahirkan di Desa Juwet-Porong-Sidoarjo, 1346 H/1926 M. ayahnya bernama K. Kalam kelahiran Trenggalek, dan sekarang menetap di Dusun Juwet-Porong-Sidoarjo. Dan Ibunya bernama Nyai Safurotun, kelahiran Pelem-Kertosono-Nganjuk. Beliau mempunyai saudara sebanyak 12 orang yaitu; Adinah, Mustajib, M. Bahruddin, Asmuri, Asro, Slamet, Jami’atun, Nafi’atun, Abd. Manaf, Abd. Manan, dan Habisun.
KH. Mohammad Bahruddin Kalam kecil belajar dirumah diajar langsung oleh ayahnya sendiri dan guru-guru yang lain. Selanjutnya ketika menginjak dewasa beliau menuntut ilmu syari’at kepada almukarom Kyai Din, dusun Kemacuk-Kertosono-Nganjuk, kemudian berlanjut kepada Kyai Hasyim (Alm), dusun Banaran disebelah timurnya pasar Kertosono dan kepada Kyai Nuhin (Alm) Juwet-Porong.
Kemudian pada waktu beliau belajar (topo), mengalami beberapa riwayat antara lain, pada waktu pagi hari ± jam 06.30 pagi, beliau dituduh tetangganya membunuh kambingnya, tetapi ternyata selang beberapa waktu kemudian, beliau melihat kambing tersebut keluar dari kandangnya. Itu riwayat pada waktu beliau di Juwet-Porong diwaktu masih kecil.
C. Masa Perjuangan KH. Mohammad Bahruddin dalam Menumpas Belanda
Pada waktu Indonesia dijajah oleh Belanda KH. Mohammad Bahruddin ikut berjuang untuk menumpas Belanda di Kertosono-Nganjuk tepatnya pada tahun 1948 M. dalam penyerbuan tersebut beliau bergabung dengan santri pondok Nglawak, Kertosono-Nganjuk. Dimana pada waktu itu proses belajar mengajar pondok dihentikan, karena konsentrasi mengusir penjajah Belanda. Dan agresi tersebut dipimpin langsung oleh Pak Dahlan, dia selain sebagai tentara juga kepala pondok. Pernah sutu kali beliau dengan teman-temannya memutus jembatan yang ada di dusun Printer, timurnya Baron-Kertosono-Nganjuk dengan tujuan membuat bahaya pada orang-orang Belanda.
Kemudian suatu ketika, waktu Belanda membenahi Jembatan, ada seorang pemuda datang untuk melihat dari dekat, dan setelah dekat, Belanda langsung melepaskan tembakan tepat pada perutnya, seketika pemuda tersebut mati ditempat.
Strategi penyerangan yang dilakukan oleh KH. Mohammad Bahrudin dan teman-temannya adalah gerilya, dimana pada suatu malam beliau dan teman-temannya merencanakan menghadang praoto yang membawa Kompeni Belanda yang lewat di jurusan Jombang-Nganjuk. Kemudian beliau dan teman-temannya musyawarah untuk menentukan langkah-langkah penyerangan dan diputuskan dengan cara menggantung “Men”, yang digantungkan diatas pohon Trembesi, yang condong kejalan. Kemudian yang bertugas naik keatas pohon tersebut, untuk memasang “Men” adalah Misbarin, dari dusun Pelem. Dan setelah terpasang “Men” tersebut, ditarik dengan menggunakan kawat kecil yang berjarak ± 40 m/50 m, dengan berat 25 kg, kemudian sewaktu-waktu praoto Kompeni Belanda lewat, kawatnya langsung diputus Cek ngrutuhi Londo (menjatuhi Belanda), kemudian beliau dan teman-temannya menghajar Kompeni Belanda dengan menggunakan granat nanas. Kemudian beliau dengan teman-temannya di atur untuk tiarap di pinggir jalan, mulai sore sampai pagi, dengan tujuan untuk menjalankan agresi kepada Belanda, akan tetapi ternyata setelah ditunggu-tunggu tidak ada praoto Kompeni Belanda yang lewat sama sekali. Dan teman beliau yang dipenggal oleh Belanda bernama Miftahun.
Pada waktu memikul peralatan perang, beliau dan teman-temannya melewati kuburan yang besar dan rimbun sekali, dan terdengar suara terkikih menakutkan. Tetapi beliau dan teman-temannya malah senang sekali, bertemu dengan tempat yang sangat rimbun dan gelap tersebut, karena menurut beliau dan teman-temannya, tempat semacam itu bagaikan hotel, yang bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian dan tempat berlindung yang aman, sedangkan suara terkikih itu dianggap sebuah hiburan yang menyenangkan.
Teman KH. Mohammad Baruddin yang terbunuh karena di jebak oleh Belanda bernama Mustakim, pada waktu agresi di Kertosono (tahun 1948), tidak diketahui tentang kabar beritanya sampai sekarang (1980), dan Insya Allah 90 % meninggal dunia.
Suatu ketika beliau di tugaskan oleh pimpinannya untuk menyelidiki daerah Pelem, tetapi naas beliau tertangkap Belanda dan Cakra. Kemudian beliau di tahan selama sehari dipabrik Sentanan Mojokerto, dan ± jam 10.00 siang beliau di datangi ayahnya, pada waktu itu ayahnya berumur ± 75 tahun, kemudian berkata kepada beliau, begini kata-katanya “Nak sak waged-waged sampean nak, sampean moco nopo-nopo mangken, mangken dalu, mantun maghrib Welandi kalian Cakra kalian mbeto lampu strongking kalian mbeto senjata…..niki, mangken sonten, narap dateng sampean lan wonten ingkang dipun taboki lan dipun jejek, lan dipun banting-banting setengah mati niku” setelah selasai berkata demikian, ayahnya pergi.
Ternyata benar yang dikatan ayahnya tadi, dimana setelah maghrib beliau melihat kerlap-kerlip cahaya lampu dari arah timur, melihat hal itu, beliau mencoba melompat tembok pabrik, untuk menghindari Belanda tersebut, akan tetapi usahanya gagal, karena Belanda dan Cakra sudah dekat. Kemudian beliau dan teman-temannya di kumpulkan dan di hajar satu persatu dengan cara dipukuli botol perutnya, disamping itu juga ada yang disuluti rokok perutnya, tetapi perut KH. Mohammad Bahruddin tidak sampai disuluti rokok. Pada waktu itu seakan-akan beliau merasa sudah hampir mati. Dan sebagian lagi ada yang di pukuli, di banting, sampai berdarah-darah mulutnya. Akhirnya pada waktu sudah setengah mati karena dihajar, beliau dan teman-temannya diborgol dan didudukan untuk dimintai maaf, bigini minta maafnya “saya minta maaf”, kemudian  beliau sangat marah, dan dalam hatinya beliau bergumam  “انا لله وان اليه راجعون”
“Cakra kurang ajar, awas kon onok jobo limpe, payu kon”.
Kemudian besok paginya beliau dan teman-temannya, dipindah ketahanan kantor polisi, selama 5 hari disana, dan suatu ketika pada waktu antri makan ditahnan, ada salah satu teman beliau yang kurang tertib, sampai-sampai terjadi dorong-dorongan, melihat kejadian itu Belanda langsung bertindak, untuk menghajar orang tersebut dengan menggunakan gagang tembak sekuat-kuatnya“Pruaaaaaak” sampai kejang-kejang sekarat, hal itu sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW.
حب الدنيا رئيس الخطيئة
“Menyukai dunia itu jadi penyebab timbulnya kesalahan”.
Begitu juga firman Allah dalam al qur an:
بسم الله الرحمن الرحيم والذين أمنو أشد حبا لله
“Orang yang beriman kepada allah itu sangat besar sekali cintanya kepada allah” (Q.S. al Baqarah : 164).
Itu merupakan perintah Allah, semoga kita semua selamat baik didunia maupun diakhirat nanti. Dan setiap orang pasti menyukai harta/dunia, karena mau bangun masjid, menyekolahkan anak, bangun pondok dan madrasah semua dengan harta. Cumak senang terhadap dunia menurut KH. Mohammad Bahruddin, di ibaratkan padi hanya setengah ebor, dan kalau senang kepada allah diibaratkan padi setengah ebor lebih. Dari itu marilah kita meningkatkatkan rasa senang kita kepada allah agar kita memperoleh ridlonya, amin3x yarobbal ‘alamin.
KH. Mohammad Bahruddin pada waktu dipenjara di Mojokerto tidak bisa menjalankan sholat, setiap kali beliau mendengar suara adzan atau suwara ketongan pertanda waktu sholat, beliau tengkurap, sambil menangis, hal itu dilakukan biar tidak diketahui teman-temannya. Jatah makan beliau di penjara sehari semalam hanya dua kali, dengan ukuran satu telapak tangan, itupun tidak penuh, persis seperti makanannya kucing. Dan sewaktu dihajar Belanda dan Cakara dipabrik Sentanan, beliau banyak membaca sholawat, karena sholawat, menurut KH. Mohammad Bahruddin sangat ampuh. Sholawat tersebut dibaca dalam hatinya, kalau digambarkan seperti air mendidih.
Sewaktu ada roling atau pengusutan, kemudian beliau mengajak teman-temannya untuk mengambil air wudlu, dengan harapan Allah berkenan mengeluarkan dari penjara. Sabagian teman beliau ada yang mau dan sebagian tidak, kemudian yang mau beliau ajak wudlu bisa keluar dari penjara, dan yang tidak mau diajak mengambil air wudlu tidak bisa keluar. Melihat beliau bisa keluar, teman-teman beliau menangis dengan sangat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al qur an:
ان الله يحب التوبين ويحب المتطهرين
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suci” (Q.S. al Baqarah : 229). Pada waktu beliau keluar dari penjara terasa tidak menginjak bumi karena sangat gembiranya.
Pada waktu KH. Mohammad Bahruddin mengahadap Belanda, beliau selalu memperbanyak membaca sholawat, kalau digambarkan seperti air yang mendidih. Karena beliau merasa memperoleh borokhah dari bacaan sholawat nabi Muhammad SAW, terbukti dalam hati beliau tidak ada rasa takut sama sekali, tetapi sebelum membaca sholawat hati beliau terasa susah yang amat sangat, yang tidak dapat diukur.
D. Uswah KH. Mohammad Bahruddin
Setelah keluar dari penjara pada waktu itu, beliau masih berada dipondoknya kyai Hasyim, Banaran-Kertosono-Nganjuk, kemudian beliau sowan ke orang tuanya, setelah selasai sowan, beliau mohon diri untuk kembali lagi kepondok, tetapi ayahnya meminta agar menunda keberangkatannya selama 4 hari lagi, hati beliau, bergejolak antara mengikuti perintah orang tua atau tidak, akhirnya beliau putuskan untuk menguikuti perintah ayahnya. Karena beliau ingat firman Allah dalam al qur an:
واعبدالله ولاتشرك به شيئا وبالوالدين احسانا  بسم الله الرحمن الرحيم
“Kita semua diperintahkan menyembah kepada allah dan dilarang menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan allah memerintahkan kepada kita semua agar berbuat baik kepada kedua orang tua sekalian” (QS. an Nisa’ : 35).
Menurut KH. Mohammad Bahruddin taat kepada kedua orang tua itu merupakan sebuah keharusan dan jangan sampai kita menyakiti hati keduanya. Sehingga beliau tidak jadi berangkat kepondok. Karena, kok seumpama beliau jadi berangkat ke pondok, maka mulut dan hati beliau dihukumi terkena najis mugholadhoh yaitu najisnya anjing dan babi, pemahaman tersebut didasarkan pada  kitab ta’limul Muta’alim,
أن يخترج عن الا خلاق الذميمة فانها كلب معنوية (تعليم المتعلم)
Kita semua diperintah untuk senantiasa menjaga akhlak atau budi pakerti yang tidak sesuai dengan syara’ yakni dengan syari’at, karena akhlak yang tidak sesuai dengan syara’, itu termasuk anjing yang bersemayam didalam dada, seumpama dilepas anjing tersebut sangat liar. Dan beliau ingat mulai sejak kecil sampai besar, itu tidak pernah menyakiti hati kedua orang tuanya. Seingat beliau, pernah melanggar dua kali, yang mana beliau hampir tidak kuat untuk menahan larangan orang tuanya. Salah satunya, pada waktu agresi tahun 1945 M, beliau mau ikut menyerbu Belanda ke Surabaya, dan sudah daftar, tetapi ibunya tidak meridloinya dan menangis. Kemudian beliau ingat perang besar membela agama islam itu hukumnya fardlu kifayah, yaitu kalau sudah ada yang berangkat, berarti sudah gugur kewajibannya. Dan pada waktu itu sudah ada yang berangkat yaitu kakaknya beliau yang bernama Mustajib. Kang Mustajib ini ikut menyerbu di dusun Damargi sekitar daerah Tebel-Buduran.
KH. Mohammad Bahruddin menikah dengan ibu Safurotun, tanpa peningset, karena beliau tidak diberi peningset oleh orang tuannya dan pernikahan beliau merupkan kehendak orang tua sama orang tua.
KH. Mohammad Bahruddin mengabdi dan tholabul ilmi kepada orang tua Ngoro ± 7 tahun. Kemudian selama 4 tahun beliau di uji tidak boleh makan nasi. Hal itu Sesuai dengan keterangan dalam kitab Ikhya’ Ulumuddin (Jld. 3. Hal. 83) yang menjelaskan tentang tirakat tidak makan nasi. Kemudian beliau diuji lagi pada waktu menjadi penganten yaitu dilarang tidur dirumah, semalam suntup, selama 4 tahun, beliau pernah tidur dirumah semalam suntup ± 6 hari, pada waktu di Juwet, cumak pada waktu di Juwet bertepatan mbah Nyai Safurotun bendero abang (red. Halangan), berarti tirakat beliau terus-terusan. Dan tahun sekarang ini menurut beliau berjalan cepat sekali, seperti blarak kobong, kratak-kratak isuk kratak-kratak.
Tunduk kepada orang tua atau kepada orang lain, semuanya itu harus didasari dengan ilmu, apabila perintah dan larangan syari’at tersebut, sesuai dengan syari’at boleh kita ikuti, namun ketika tidak sesuai, tidak usah kita ikuti. Hal itu sesuai dengan keterangan dalam kitab Ta’limul Muta’alim
لاطعة للمخلوق فى معصية الخالق (تعلم المتعليم)
“Tidak ada berbakti kepada makhluk didalam maksiat kepada allah. Jadi jelas apa yang menjadi larangan allah tidak perlu di ikuti” (Ta’limu al Muta’alim).
E. KH. Mohammad Bahruddin Sebagai Guru Mursyid
KH. Mohammad Bahruddin belajar ilmu thoriqoh di pondok Kyai Imam As’ari Ngoro-Mojosari-Mojokerto selama ± 20 hari, kemudian beliau dinikahkan dengan putri Kyai Imam As’ari yang bernama Siti Safurotun pada tahun 1950 M. Waktu itu beliau masih berumur 24 tahun. Kemudian tahun 1953 beliau dikaruniai putra yang kemudian diberi nama Mohammad Sholeh. Selain itu beliau juga mendalami ilmu  thoriqoh ke ayahnya sendiri yaitu Kyai Kalam di Juwet-Porong-Sidoarjo.
Pada waktu kyai Sholeh masih berumur satu tahun, beliau tinggal kepondoknya almukarom kyai Munawir Tegalarum-Kertosono-Nganjuk, perlu untuk ngaos Thoriqoh dan lain sebagainya. Pertama, beliau  ngaos 40 hari, setelah selesai beliau mohon pamit untuk pulang, karena sudah sangat rindu kepada istrinya, tetapi kyai Munawir tidak memperkenankannya, walaupun hanya dua hari, justru kyai Munawir menganjurkan agar beliau munggah ngaos lagi 60 hari, seketika itu hati beliau terasapoyang-payingan sekali, ibaratnya kok seumpama dicancangi cagak pasti lepas, berhubungdicancang ilmu akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa, kemudian hati beliau ingat kalau istiqomah perkataannya guru itu wajib yaitu fardlu ‘ain. Menurut beliau kok seumpama jadi pamit dengan lisan dan hati, maka beliau hukumi terkena najis mugholadoh yaitu najisnya anjing. Pesan beliau hati kita semua jangan sampai dihinggapi kata-kata “perkoro guru golek maneh”, ibaratnya nyandung nyampar, kata-kata tersebut menunjukkan kalau su’ul khotimah.
Guru Mursyid menurut KH. Bahruddin, harus mempunyai ijazah izin dan ijazah mursyid. Izin itu dari guru dan ijazah itu tanda tangan guru, sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW.
لكل شيئ عالم. كلام امام صالح
“Semua perkara itu ada tanda-tandanya (Tanqikhu al qoul, Hal. 25).
Dan Gonyeh (meremehkan guru), itu menunjukkan kalau su’ul khotimah.
Tanda-tandanya orang beriman yaitu menjalankan sholat, karena bagi kita tidak tahu didalamnya hati. Tahu kita kalau orang beriman ya menjalankan sholat.
Pada waktu beliau (red. Ngaos Thoriqoh), di Pondoknya Almukarom Kyai Munawir Tegalarum- Nganjuk, selama ½ tahun dengan cara nerus yaitu naik turun-naik turun, sampai selesai. Kemudian beliau mendapatkan ijazah mursyid tepatnya pada tahun 1955. setelah itu, beliau di perintahkan untuk pulang ke orang tua Juwet-Porong dan orang tua Ngoro-Mojosari-Mojokerto.
Ijazah mursyid KH. Mohammad Bahruddin dari dua guru sekaligus yaitu kyai Munawir Tegalarum-Kertosono-Nganjuk dan bapak Kyai As’ary Ngoro-Mojosari-Mojokerto.
F. Proses Pencarian Tempat dan Kondisi Masyrakat sebelum ada Pondok Pesantren
KH. Mohammad Bahruddin di pondok Ngoro ± 7 tahun, 4 tahun awalnya, sampai kemudian 7 tahun. Selama disana beliau bertugas ngrekso jam sholat, kentong, dan adzan. Kecuali kalau ‘asar. Selain itu beliau juga yang memelihara masjid, kamar mandi dan lain-lainnya. Kemudian almarhum bapak Imam As’ary memerintahkan beliau agar mencari tempat, ke dusun Pucang, tapi gagal, kemudian mencari tempat lagi ke Carat dengan ditemani tiga orang yaitu kyai Ahmad Na’in, pak Qozin, dan pak Sapari, mereka berasal dari dusun Purworejo-Mojosari-Mojokerto.
Pada waktu ke Carat beliau dapat tanah miliknya pak Bawi atau mbok Runti Mojosari-Mojokerto. Pada waktu mengukur tanah, beliau ditemani oleh pak Swaten, pada saat itu, beliau berkata, begini”kidul niku kok dipun tempati tepak, keranten niku roto lan wiyar”. kemudian pak Swaten jawab“nggih dipun dol puniko nggadahe pak Ardi cumake sampun dipun nawis 1100 rupiah niku, seng nawis pak San Carat, niku”, kemudian beliau tutup dengan harga Rp 1200,-, cumak pak Ardi masih minta sak tancepe langgar angkring untuk jariyahnya, dan beliau menyetujuinya. Beliau mengarahkan tempat di disebelah timur pondok termasuk pojok kidul wetan. Pada waktu balik buku di pendapanya pak Ji’ah, pak Ardi tanya kepada pak lurah “opo gak di dewekno bukune, buku jariyahku, bumi sak pancepi langgar angkring”, pak lurah Sanali menjawab “mboten ngangge, mung sak monten mawon, ketanggungan”.
KH. Mohammad Bahruddin berani membeli dengan harga lebih, karena menurut predeksinya, beliau dapat menderikan masjid yang pertama. Kalau itu terwujud maka, ajaran thoriqoh Naqsabandiyah Mujadiyah Kholidiyah dapat terjaga dengan baik, itu pertama. Kemudian yang Kedua, ajaran syari’atpun juga demikian, karena kalau bukan KH. Mohammad Bahruddin sendiri yang mendirikan, beliau tidak akan berani menutup pintu masjid, setelah sholat jum’at, amalan-amalan dan wirid-wiridan. Karena merasa tidak ikut mendirikannya. Tetapi Karena beliau sendiri yang mendirikan, sehingga beliau berani mengunci pintu masjid, untuk melaksanakan Tawajuhan.
Kemudian setelah tanah terbeli, KH. Mohammad Bahruddin mendirikan Langgar dan Pondok pada waktu tahun 1955, secara bersamaan. Keduanya terbuat dari bambu atau bongkotan, dimana bahannya langgar diambil dari Ngoro, dan bahannya pondok diambil dari Juwet, pada waktu pendirian Langgar-Pondok, beliau minta bantuaan tenaga dari masyarakat sekitar (soyo). Tetapi ternyata pada pelaksanaannya hanya sedikit yang datang diantaranya pak Jama’i (H. Dul Ghoni), dan pak Ardi, sedangkan pak Jasim (red. Tetangga), aja tidak datang. Sedangkan yang membantu dari Juwet-Porong adalah Kang Mustajib, adik Asro, adik Slamet, pak Waras, pak Lim, dan kang Tholib. Dan yang dari Ngoro adalah Sarmadan, Ngetrep, Ahamad Jazuli, Sedati, pak Maikah, Ngetrep, dan pak Maksum, Sudimoro. Adapun konsumsinya tenaga yang dari Ngoro, dikirim dari pondok Ngoro demikian pula tenaga dari Juwet.
Pada waktu KH. Mohammad Bahruddin masuk desa Carat, disana hampir semua rumah memelihara anjing, ketika beliau melihat keadaan yang seperti itu, beliau tidak langsung melarangnya, akan tetapi beliau memberikan pelajaran bagimana cara mensucikan najis anjing tersebut. Kemudian pada waktu Gestapu anjing tersebut habis total. Beliau ketika mau mengerjakan sholat selalu berpindah kadang di ke Gempol satu kali tempo ke Ngoro.
Alhamdulillah Pembangunan mushalla Pondok selesai pada tahun 1955 M. bertepatan bulan tasyrik. Kemudian beliau diperintahkan (red. K. Kalam), untuk berangkat ke Carat sendirian, ada temannya yaitu malaikat.
Kemudian K. Kalam memerintahkan adik KH. Mohammad Bahruddin (Asro) untuk menemani beliau di waktu malam hari dan itu hanya berlangsung selama 5 hari, karena Asro tidak kerasan. Mengetahui adiknya tidak kerasan, beliau menyuruhnya pulang, waktu sampai dirumah ayahnya bertanya kepada Asro “kon kok yaene kok wis muleh?, sopo rewange kakangmu Bahrudin ?, sopo ?” kemudian Asro menjawab “mboten wonten rencangipun” kemudian K. Kalam menangis, dan langsung berdo’a “ya Allah mugi-o Allah paring rencang  dateng yugo kulo Mohammad Bahrudin”,dan bersamaan dengan itu K. Kalam tidak bisa tidur semalaman, karena memikirkan KH. Mohammad Bahruddin.
Dan perkiraan Asro sampai dirumah Juwet, ± ½ jam, orang tuanya pak Jasim (mbok Royah), membangunkan pak Jazim, begini “Sim-Sim tangiho, wong lor iku, gak nok abane, antarane kok onok ewange, yo onok abane, ewangono, poo Sim, kono, Sim, abane gak onok ewange”, dan pak Jasim mau datang, untuk menemani KH. Mohammad Bahruddin. Beliau bangga sekali, karena ada yang menemani, dan kebanggaan beliau kalau di ibaratkan seperti orang menemukan mas, sebesar gunung kecil, dan itu merupakan do’a orang tua, yang langsung di kabulkan oleh allah, sehingga do’a restu orang tua, tetap menjadi harapan kita semua, hal itu, sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW dalam kitab Kasyifatu as Sajaa,
وفى ا لحديث لايرث قضاء الا دعاء ولا يزيد فلا عمرالا البر
“Tidak ada yang bisa menolak qodlo (ketentuan allah) kecuali do’a, dan tidak yang menambah umur kecuali kebaikan”.
Oleh karena itu kita semua jangan bosan-bosan untuk meminta (berdo’a) kepada Allah Swt.
G. Kiprah, Fitnah, Tantangan, dan solusi KH. Mohammad Bahruddin
KH. Mohammad Bahruddin mengalami sendirian di Carat ± 2 ½ tahun, dan pada waktu sendirian, beliau mengumpulkan orang untuk di ajak menjalankan jum’atan, dan pada waktu itu ada 12 orang, yang mau yaitu beliau sendiri (KH. Mohammad Bahruddin), pak Temo, pak Moden, pak Dol, pak Jasim, pak H. Abd. Ghoni, pak Tun, pak Padri, pak Ni, pak Tulus atau pak Salam, kang Maksum dan Pak Sarmun. Sedangkan dari pemuda ada 7 orang yaitu Sutejo, Danu, Poniman, Sabar, Mulyo, Amari dan kang Jaiz.
Pada waktu itu di Carat masih belum ada perkumpulan jum’atan, sehingga beliau kalau mau menajalankan jum’atan tidak tetap, kadang dimasjid Gempol satu kali tempo ke Ngoro, dan itu dilakukan dengan jalan kaki.
Pada waktu sendirian di Carat, satu kali tempo, beliau kangen kepada istri, kemudian setelah maghrib belaiu mengajak Amari ke Ngoro, dan disana tidak lama ± ¼ jam, kemudian kembali lagi ke Carat untuk mengimami sholat isak.
KH. Mohammad Bahruddin membuat kamar mandi, yang pertama hanya tempatnya air saja, dengan atap damen (daun padi), dan cagaknya dari pohon banten, dan pada waktu itu orang yang akrab dengan belaiu ada 6 orang yaitu pak Jasim, pak Tun, pak Tulus, pak Salam, pak Ni, dan pak H. Abd. Ghoni.
Kemudian pemuda yang dekat dengan beliau ada 6 pemuda, yaitu Danu, Sutekso, Buadi, Sabar, Kaban, dan Amari.
Kemudian lama-kelamaan beliau bisa membuat rumah, cumak rumahnya masih sederhana dengan menggunakan cagak bongkotan dan atap alang-alang gedek.
Dalam menapaki perjuangan beliau, tidak terlepas dari beberapa fitnah, pertama, beliau dituduh zina, kedua, dituduh korupsi, ketiga, dituduh bersekongkol dengan pencuri. Itu semua merupakan fitnah dan fitnah itu lebih kejam hukumannya dibandingkan dengan pembunuhan, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :
الفتنة أشد من القتل (۲:۱۹۰)
Orang tua KH. Mohammad Bahruddin Ngoro, merupakan ahli tirakat (tidak makan nasi) itu selama bertahun-tahun, mulai waktu dipondok sampai mempunyai istri dan dua anak, sama seperti KH. Mohammad Baruddin, bahkan mungkin lebih berat KH. Mohammad Bahruddin, karena beliau tidak bisa bertemu dengan istri.  Kemudian kalau orang tua KH. Mohammad Bahruddin (Juwet-Porong) adalah ahli ziarah kubur, mulai dari sunan Ampel, Giri, Batu ampar, dan Bungkul, itu dilakukan paling sedikit 8 hari sekali, dan disana selama 8 hari. KH. Mohammad Bahruddin juga sama, tetapi tidak 8 hari melainkan 8 menit.
Dan keterangan beliu bisa di cross-cekh sesuai dengan tempat dan kepada orang yang selevel beliau.
KH. Bahruddin, waktu membuat batu bata ditemani oleh pak Jasim, dan beliau sangat semangat sekali sampai-sampai meninggalkan sholat isyrok, selama ± 5 isrok, karena beliau kepingin pembangunan segera selesai, niat beliau pada waktu itu adalah “kulo niat nyitak boto kangge tempat ngaji ferdlu kerono alloh”, Kemudian beliau sadar dan berpikir la iyo ngaji iku perlune opo ? Kan cek faham antara sing wajib, sunnah, boleh, makruh, haram lan sing bathil (tidak baik), aku roh sholat isrok, tapi ndak tak lakoni berart”i « aku iki belani kurungan yakni lus-lus kurungan manuke (isyrok) iku ucul » mulai sejak itu, KH. Mohammad Bahruddin tidak lagi meninggalkan sholat isyrok, karena menurut beliau ketika berani meningal sholat isyrok maka akan merambat, ke sholat-sholat sunnat lainnya. dan itu oleh beliau dihukumi kecopetan.
Beliau ingat firman Allah dalam al qur an,
وماالحياة الدنيا الا متاع الغرور
Tidak ada kehidupan di alam dunia kecuali hanya kenikmatan yang semu (QS. Al Imron, Hal. 184).
Pada waktu mau menaikkan kayu dan balungane pondok, beliau minta bantuan tenaga pada pak Gin, tapi naas pak Gin kena hukuman jaga tiga malam berturut-berturut, dari perangkat desa, karena tidak ikut bersih desa, tetapi justru ikut membantu KH. Mohammad Bahruddin.
KH. Mohammad Bahruddin mempunyai seorang murid syari’at namanya Amari putranya mbok Pah Carat, suatu ketika Amari, minta izin untuk ikut sekolah ke Gempol, tapi naas karena diketahui Kamituwo (Wak Asro), kemudian Amari dihadang dan dibawa kependapa kamituwo. Dan disana Amari dimarahi habisan-habisan, akhirnya hal itu oleh beliau dilaporkan kepada ketua ranting NU (Maksum), akhirnya selesai dan Amari bisa sekalah lagi dengan aman.
Suatu ketika ada penghinaan kepada KH. Bahruddin, pada waktu beliau pulang dari rumahnya pak H. Abd. Ghoni, ada orang disawah, kemudian ketika melihat beliau orang itu langsung mengucap begini “aku durung sembahyang ‘asar aku”
Kemudian penghinaan yang ditujukan kepada ibunya Kyai Sholeh, dengan cara cakap-cakap dengan temannya begini “kon ojok gandangan ae onok wong putihan liwat opo gak isin kon” dan pada waktu beliau mengawali ke pemakaman, kemudian ada orang yang berucap dengan lantang “ya….!!” Hal itu dilakukan dengan sengaja, tapi semuanya itu beliau hadapi dengan santai saja. Kemudian ada sebagian orang yang bilang sama cucunya begini “kon nek nakal-nakal, nek laki tak lakekno oleh santri kapok kon !!” (red. kamu kalau nikah tak nikahkan dengan santri), seakan-akanimage yang terbangun santri itu jelek, padahal modalnya santri itu banyak, apabila dibandingkan dengan dengan biaya sekolah formal.
Selanjutnya dalam perkembangannya, orang-orang Carat-Raos, sudah banyak yang insyaf,kemungkinan hanya 20 % yang belum, hasil penyelidikan beliau apa penyebab orang-orang sama insyaf ?, hasilnya adalah karena, pertama, tidak menghina orang yang tidak sholat, kedua, tidak menghina anjing, ketiga, sebab sembur suwuk, keempat, mulai mau belajar kepada anaknya,kelima, setiap ada kematian mau ta’ziyah dan mau memberikan kesaksian dan memaafkan,keenam, anaknya yang tholabul ilmi diajari tidak boleh berani kepada orang tua, ketujuh, minta hujan lalu terkabulkan.
Kemudian dalam perkembangannya beliau benyak menerima kiriman bantuan, antara lain,pertama, beliau dapat kiriman batu bata, tapi tidak jelas siapa yang mengirim batu bata tersebut, kejadian itu berawal dari kegelisahan beliau karena melihat pembangunan yang belum selesai, kemudian tiba-tiba datang dua cikar dengan membawa batu bata yang bagus-bagus. Dan batu bata tersebut oleh KH. Mohammad Bahruddin digunakan untuk membuat kamar mandi putri. kemudian beliau mulai mengusut dari mana, batu bata tersebut, kemudian beliau menanyakan hal itu kepada pak Aminah “sampean sing inggal niki  kirim banon dateng panggenan kulo” kemudian mbok Aminah tidak menjawab, justru bingung dan tingak-tinguk. Mbok Aminah ini yang biasanya memberi KH. Mohammad Bahruddin dua bencar padi., Kedua, beliau dapat bantuan langgar angkring cagak empat, kemudian bantuan tersebut dijadikan langgar putri. Bersamaan dengan adanya gestapu PKI tahun 1966 M. beliau bisa membuat serambi masjid, tetapi kapanitiaan masih belum terbentuk, karena sangat minim dan lemahnya umat islam. Beliau menyelasikan pembangunan tanpa menggantungkan pada bantuan desa, tetapi belaiu megantungkan semuanya hanya kepada allah, لاحول ولا قوة الا بالله العلي العظيم cumak kanggo dohir ahlusunnah waljama’ah termasuk tiang ahli toriqah naqsabandiyah. Kemudian pada waktu mau mondasi, setelah jum’atan, beliau mengumumkan kepada jam’ah, dengan harapan mereka mau membantu. Tetapi ternyata orang-orang dusun yang ikut membantu pembangunan tersebut hanya empat orang yaitu, kang Teporejo, Bi’I, Carat, pak Tamar, Ngabei, Raos. Dan dapat bantuan dari dusun sebesar Rp 450,- uang tersebut digunakan untuk membeli batu kapur dan untuk membayar tukang, bantuan itu diantarkan langsung oleh pak Slawir (Pamong). Selain itu beliau juga ikut nukang, karena menurut pertimbangan beliau yang membantu hanya sedikit.
Kemudian dalam perkembangannya orang-orang Carat-Raos, mulai mau diajak gotong-royong untuk menyelesaikan tempat ibadah. Seiring dengan hal itu, beliau berkeinginan untuk mendirikan masjid, dalam hati, beliau berkata “pokok ono jagak papat dawane sangang meter punjul, insya alloh bakal wujud niku masjid” selang bebarapa waktu kemudian, beliau dapat aqiqah kambing dari H. Ibrahim, dan beliau pikir-pikir “la iyo wedos iki, ketimbang dipangan aggur-angguran, alok digawe nglumpukno umat islam Carat lan Raos, terus diajak moco sholawat nariyah yo iku akhehe 4444, lha yo enak, terus diajak dungo nang alloh supoyo masjid cepet selesai”. Dan rencana tersebut berjalan sesuai rencana yang diinginkan yaitu membaca sholawat nariyah.
Kemudian beliau dapat bantuan pohon kepoh yang dijadikan tapal batas dusun Kentongan, yang rencananya pohon tersebut digunakan untuk cagak (4) dan sisanya dipakai untuk membakar batu bata.
Pohon Kepoh tersebut merupakan permintaan KH. Mohammad Bahruddin kepada pak Sanalim (Mantri alas), dan di perbolehkan, kemudian pak Sanalim menyerahkan (pasrah), kepada beliau terkait dengan kejadian-kejadian yang mungkin terjadi (wonten demite), setelah pemotongan pohon itu nanti, yang bisa mengganggu masyarakat, kemudian beliau sanggup untuk mengatasinya, dan sebaliknya beliau juga menyerahkan (pasrah), kepada pak Sanalim, soal gangguan orang-orang sekitar, dan pak Sanalim sanggup, sehingga beliau dibuatkan surat resmi. Dan sebelum pohon tersebut di tumbangkan terlebih dahulu beliau bacakan surat yasin 41x bersama dengan umat islam Carat-Raos dengan perantara air, kemudian air tersebut di siramkan kepohon Kepoh tersebut.
Kemudian setelah sholat jum’at beliau mengumumkan kepada jama’ah terkait dengan pemotongan pohon tersebut, dan yang memotong adalah umat islam Carat-Raos, selama dua hari penuh. Kemudian menurut riwayat pohon Kepoh tersebut, yang di riwayatkan oleh pak Saniah sebagi sesepuhnya orang Carat, itu sudah 9 orang yang meninggal sebab memotong pohon tersebut, dan anehnya pohon tersebut ketika dipotong dapat separo pohon tersebut bisa pulih seperti semula, dan beliau menyaksikannya sendiri.
Hasil iuran batu kapur orang-orang dusun, mulai terkumpul sebanyak 1 tong, dan itu digunakan beliau untuk melanjutkan pembangunan tembok masjid, dimana sebelumnya sudah mempunyai batu bata banyak, yang sebagian untuk pembangunan dan sebagian lagi dijual untuk kebutuhan yang lain. Pada waktu itu kepanitiaan sudah terbentuk, sehingga beban beliau semakin ringan. dan pertama kali yang dibangun oleh beliau adalah serambi, karena menurut pertimbangan beliau kalau masjid yang didahulukan, dikawatirkan nanti orang-orang berbicara urusan duniawi disitu.
Karena menurut sabda nabi Muhammad saw dalam kitab Tankih,
فى المسجد افضى الله اعماله أربعين سنة (تنقح القول, ص: ۲۱)  من تكلم بكلام الدنيا
Artinya:  Barang siapa berbicara urusan dunia didalam masjid, maka allah menghilangkan amal kebaikannya selama 40 tahun (Tanqih al Qoul, Hal, 21).
Pada waktu penggalangan dana jama’ah thoriqoh yang banyak memberikan dukungan dana dibandingkan dengan yang bukan jama’ah thoriqoh, bahkan ada salah seorang jam’ah (namanya dirahasiakan), yang amat serakah dalam urasan membantu pembangunan tempat ibadah, maunya di kuasai sendiri. Sedemikian itu keikhlasan orang-orang ahli thoriqoh naqsabandiyah yang mendapat pertolongan dari Allah SWT.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki KH. Mohammad Bahruddin pada waktu berjuang antara lain,  pada waktu musim kemarau panjang beliau mengajak orang-orang untuk meminta kepada Allah supaya diturunkan hujan, akan tetapi suwara orang-orang yang tidak suka kepada beliau luar biasa, dengan kata-kata penghinaan, begini “awas onok banjir bandang sebab onok wong jaluk udan” dan kata-kata itu hampir satu kampung. Kemudian ternyata setelah isya’ hujan turun dengan deras, sampai terjadi banjir, akhirnya suwara orang-orang berbalik, begini “ngeneki, mungguho ngekei pak kyai bahruddin, rong pencar dang  gak rugi“, cumak itu hanya sebatas ucapan, tidak ada bukti, tapi beliau tidak begitu mengharapkan pemberian mereka, yang terpenting bagi beliau, adalah tidak dihina, itu sudah cukup.
KH. Mohammad Bahruddin menikah pada tahun 1950 waktu berumur 24 tahun dan sampai tahun 1978 M beliau di karuniai 12 putra. Pertama, Mohammad Sholeh, lahir tahun 1953 M, kedua,Mohammad Ansor, lahir tahun 1956 M, ketiga, Mohammad Mansyur, lahir tahun 1958 M, keempat,Gufron, lahir tahun 1961 M, kelima, Siti Mariam, lahir tahun 1963 M, keenam, (meninggal), ketujuh,Mohammad Dhofir, lahir tahun 1967 M, kedelapan, Mohammad Ridlwan, lahir tahun 1970 M,kesembilan, Achmad fatah, lahir tahun 1972 M, kesepuluh, Siti Habibah, lahir tahun 1974 M,kesebelas, Mohammad Misbah, lahir tahun1975 M, dan kedua belas, Siti Munifah. Kemudian putra beliau yang meninggal dunia berjumlah tiga, yaitu Mohammad Ansor, Siti Habibah, dan yang keluron. Jadi sekarang putra-putri belaiu berjumlah 9 orang.